Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

PRAKTEK PUJI-PUJIAN GEREJAWI

(PANTAUAN DARI BALKON GEREJA)

Catatan Awal
     Aktifitas puji-pujian gerejawi di dalam setiap proses peribadatan merupakan sebuah bentuk respon/tanggapan jemaat/peserta kebaktian yang sekaligus juga merupakan sebuah ungkapan iman akan kebesaran dan kemuliaan ALLAH, kasih karunia, dan penyertaan ALLAH di dalam kehidupan beriman kita. Sebagaimana puji-pujian jemaat/liturgi, pemilihan dan penetapan nyanyian/lagu untuk dinyanyikan di dalam sebuah liturgi kebaktian pun disarankan atau harus mencerminkan nilai-nilai spiritualitas iman Kristiani yang menjunjung tinggi ALLAH Tri Tunggal sebagai pusat puji-pujian dan penyembahan, merefleksikan pergumulan rohani jemaat dan/atau gereja, serta memotivasi pertumbuhan dan perkembangannya.

Senin, 08 Agustus 2011

SOS: SELAMATKAN JIWA/SPIRIT KEKRISTENAN...!


(SURAT KEPADA SAHABAT GMIT-KU)

Catatan Awal
        SYALOM! Surat ini saya sampaikan kepada semua sahabat GMIT-ku di mana saja berada, yang bersimpati memperjuangkan cara/praktek puji-pujian liturgi dan/atau puji-pujian jemaat yang baik, benar dan bertanggung jawab sesuai dengan prinsip dan aturan dasar bernyanyi. Cara/praktek puji-pujian dimaksud adalah bernyanyi dengan mengikuti ‘apa yang dikehendaki’ (baca: tuntutan) sebuah lagu, bukan mengikuti kehendak kita yang menyanyikannya. ‘Apa yang dikehendaki’ dari sebuah puji-pujian, mau tidak mau, harus diikuti oleh kita semua demi dapat menjaga ‘jiwa/spirit’ puji-pujian tersebut. Untuk mengikuti tuntutan lagu, dalam prakteknya, kita perlu memperhatikan seluruh simbol/petunjuk notasi yang tertera di dalamnya, dan menyanyikannya dengan baik dan benar. Surat ini pun perlu dimaknai sebagai sebuah “SOS” (pesan darurat, pen) bagi kita semua untuk menyelamatkan puji-pujian kita yang sudah dan sedang berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

GEREJA DAN PEMAIN MUSIK GEREJA


(PANTAUAN DARI MENARA GEREJA -- BAGIAN II)

“Apa yang harus dipikirkan/dilakukan oleh gereja untuk bisa membenahi kondisi musik pengiring dan/atau aksi pemain musik gereja menjadi lebih baik?” Sebuah pertanyaan yang harus dan segera menjadi perhatian gereja sekaligus menjadi pekerjaan rumah yang harus dan segera diselesaikan dan/atau dijawab pula oleh gereja. Sebagai wahana pengiring puji-pujian, tidak bisa dipungkiri bahwa musik pengiring memiliki fungsi dan peran yang sangat besar dalam sebuah proses peribadatan. Percaya atau tidak, musik pengiring turut memberi andil yang sangat besar dalam hal: 1) menjaga dan memelihara kekhusukan, kekudusan dan/atau kehikmatan beribadat kepada ALLAH, 2) memotivasi kesungguhan dalam memuji dan memuliakan ALLAH, 3) membangkitkan semangat beribadat dan/atau ‘menyemarakkan’ suasana berbakti kepada ALLAH, dan 4) mendukung tanggapan/respon jemaat kepada ALLAH, di hadapan hadirat ALLAH, dan atas kehadiran ALLAH.

OKB: ORANG KRISTEN (DAN) BERNYANYI

(MONOLOG DARI KINTAL GEREJA)


      Saya pernah ditanya oleh seorang teman non Kristen dengan pertanyaan yang sebenarnya sederhana dan gampang tapi sangat sulit untuk dijawab, dan pertanyaan tersebut sekaligus merupakan sebuah ‘tamparan’ keras bagi kita sebagai orang Kristen. Dibilang ‘gampang’ karena memang pertanyaannya tidak sulit; tidak perlu ‘hitung-kali-bagi’ menggunakan rumus-rumus tertentu untuk menjawabnya. Namun dibilang ‘sulit’ karena jawaban dari pertanyaan tersebut akan sangat berpengaruh pada ‘citra kekristenan’ kita. Pertanyaan tersebut sebagai berikut:
“Semua orang Kristen pada pintar-pintar nyanyi, ya?” Saya persilahkan semua orang Kristen di seantero GMIT untuk menjawabnya.
Walaupun sudah dijawab bahwa tidak semua orang Kristen pandai bernyanyi, teman saya ini tidak percaya begitu saja, malah dipikirnya saya sedang memberikan jawaban yang sifatnya ‘merendah di atas bukit’. “Ha…ha…ta telek!”

PRAKTEK PUJI-PUJIAN GEREJAWI


(PANTAUAN DARI BALKON GEREJA)

Catatan Awal
            Aktifitas puji-pujian gerejawi di dalam setiap proses peribadatan merupakan sebuah bentuk respon/tanggapan jemaat/peserta kebaktian yang sekaligus juga merupakan sebuah ungkapan iman akan kebesaran dan kemuliaan ALLAH, kasih karunia, dan penyertaan ALLAH di dalam kehidupan beriman kita. Sebagaimana puji-pujian jemaat/liturgi, pemilihan dan penetapan nyanyian/lagu untuk dinyanyikan di dalam sebuah liturgi kebaktian pun disarankan atau harus mencerminkan nilai-nilai spiritualitas iman Kristiani yang menjunjung tinggi ALLAH Tri Tunggal sebagai pusat puji-pujian dan penyembahan, merefleksikan pergumulan rohani jemaat dan/atau gereja, serta memotivasi pertumbuhan dan perkembangannya.

Minggu, 29 November 2009

MENGOREKSI PRAKTEK PUJI-PUJIAN JEMAAT

(SARAN DARI MIMBAR KECIL)

“Mengoreksi Praktek Puji-Pujian Jemaat” (Bagian I) menyoroti praktek bernyanyi secara keseluruhan yang dilakukan oleh warga gereja/jemaat dalam melakukan puji-pujian jemaat/liturgi pada saat kebaktian. Sebuah praktek bernyanyi yang sungguh memprihatinkan yang selalu disuguhkan di dalam setiap proses kebaktian di hampir seluruh gereja-gereja di bawah naungan GMIT. Sebuah praktek puji-pujian yang tidak dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi teori, praktek, etika maupun estetika berkesenian. Sebuah praktek puji-pujian yang meninggalkan ‘sejuta’ tanda tanya baik dari kalangan gereja/warga GMIT sendiri, maupun gereja/warga dari denominasi lain, dan bahkan dari kalangan non Kristen. Sebuah praktek puji-pujian yang akhirnya memberi ‘citra negatif’ bagi gereja/warga GMIT dari masa ke masa.

JEMAAT DAN PUJI-PUJIAN JEMAAT

(HIMBAUAN DARI MIMBAR KECIL)

            Pujian/Nyanyian Jemaat atau Nyanyian Jemaat atau dengan kata lain Kidung Jemaat adalah nyanyian/lagu yang mencerminkan nilai-nilai iman Kristiani, mengandung spiritualitas yang dalam dan bermanfaat bagi pertumbuhan rohani, serta memperlihatkan pergumulan rohani gereja-gereja di seluruh dunia. Kehadiran Pujian/Nyanyian Jemaat merupakan sebuah kekayaan rohani gereja yang perlu dipertahankan, dilestarikan, dan dipergunakan sebesar-besarnya hanya demi kemuliaan ALLAH semata.  Ditinjau dari makna dan esensinya, Pujian/Nyanyian Jemaat adalah sebuah ungkapan iman jemaat dan/atau gereja akan kebesaran dan kemuliaan ALLAH, SANG PENCIPTA langit dan bumi beserta segala isinya, akan kasih karunia ALLAH di dalam YESUS KRISTUS sebagai TUHAN dan JURUSELAMAT, dan akan penyertaan ALLAH di dalam ROH KUDUS di dalam kehidupan beriman kita sehari-hari.

PEMIMPIN PUJIAN: PENGENDALI ‘LALU LINTAS’ PUJI-PUJIAN JEMAAT

(OBROLAN DARI TERAS GEREJA)

            “Tau katong mau manyanyi ikut yang mana, song leader, ko, pendeta?? Song leader bikin dia punya, pendeta ju bikin dia punya!” Sepenggal ungkapan frustrasi yang ‘sangat sering’ dilontarkan oleh jemaat pada saat puji-pujian berlangsung. Sebuah fenomena yang juga sering kita jumpai di hampir setiap kebaktian di gereja-gereja dalam lingkup GMIT. Malah ada yang berseloroh: ”Orang bilang ‘dualisme kepemimpinan’ tu yang seperti ini ni! Atau mungkin lebe pas kalo katong bilang kudeta?!”
Ungkapan-ungkapan di atas sesungguhnya adalah gambaran ketidak-puasan warga/anggota jemaat yang sebenarnya sudah jenuh dan kecewa dengan kesemrawutan puji-pujian yang terjadi selama ini, dan sangat merindukan adanya pembenahan serius yang berhubungan dengan fungsi/peran dan tugas pelayanan, khusus yang berhubungan dengan ‘memimpin puji-pujian jemaat/liturgi’. Maaf, sudah menjadi ‘menu wajib’ yang selalu ‘dihidangkan’ oleh gereja (GMIT) di setiap kebaktian kita khususnya kebaktian Minggu.

MUSIK PENGIRING DAN PUJI-PUJIAN JEMAAT DILARANG SALING MENDAHULUI!

(HIMBAUAN DARI MIMBAR KECIL)

            “Saya bingung, ‘Musik Pengiring’ yang harus mengiringi (baca: mengikuti) ‘Puji-pujian Jemaat’ atau ’Puji-pujian Jemaat’ yang harus mengikuti ‘Musik Pengiring’?” Sebuah pertanyaan yang mungkin ada di dalam benak kita, ketika kita melihat kenyataan yang terjadi pada musik pengiring dan puji-pujian jemaat kita yang tidak kompak atau tidak harmonis di dalam setiap proses peribadatan / kebaktian.
            Pertanyaan di atas juga pernah dilontarkan oleh seorang Pendeta dan mendapat tanggapan yang beragam dari berbagai pihak sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Ada yang mengatakan: “Sebagai pengiring, musik yang harus mengikuti atau disesuaikan dengan puji-pujian jemaat!” Ada pula yang beranggapan sebaliknya: “Puji-pujian jemaat yang harus disesuaikan dengan musik pengiring!”

SPIRIT MUSIK DAN PUJI-PUJIAN PENGIRING LITURGI

(DIALOG DARI KONSISTORI GEREJA)

Musik dan Puji-pujian Pengiring Liturgi adalah salah satu aspek penting dalam sebuah kebaktian. Musik dan Puji-pujian dapat menggugah setiap Warga Jemaat lebih khusuk dalam beribadah. Musik dan Puji-pujian mampu menghadirkan nuansa kudus dan hiktmat saat berbakti. Musik dan Puji-pujian ditujukan semata-mata untuk memuji dan memuliakan ALLAH.